Postingan

Menampilkan postingan dengan label wisata budaya

10 Tempat Bertualang Seru Di Banyuwangi

Gambar
Banyuwangi tumbuh begitu cepat menjadi salah satu destinasi wisata. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa Banyuwangi mempunyai Potensi dari Bentang alam dan Panoramanya menakjubkan dan bisa dibilang lengkap. Dari Gunung, Hutan bahkan Pantai-pantai indah di sepanjang disepanjang   175,8 km dari ujung Utara hingga Barat. Dari sekian banyak potensi yang ada, 10 (Sepuluh) Destinasi ini akan meninggalkan pengalaman dan kesan serta memuaskan Jiwa Petualangan kalian. 1. Petualangan Seru Mendaki Kawah Ijen pemandangan kawah ijen dari atas Mengawali Petualangan Seru di Banyuwangi dengan mendaki Kawah Ijen yang berada di Gunung Merapi Ungup-ungup. Kawah Ijen mempunyai fenomena alam yang hanya ada satu-satunya di Dunia yaitu Api Biru. Pendakian untuk melihat si Api Biru di Kawah Ijen perlu dilakukan pada dini hari.  Sensasinya menyenangkan, Menyelusuri jalan setapak menanjak, melawan hawa dingin sekaligus mengalahkan diri sendiri. Pendakian Kawah Ijen dengan berjalan santai memakan waktu du...

Kesenian Mencak Sumping, Dusun Mondoluko Dan Kisah Dunia Persilatan Di Kabupaten Banyuwangi

Gambar
Mencak Sumping Rasanya seperti berada dalam suasana film kolosal dunia persilatan Indonesia seperti film wiro sableng, Jaka Tarub, Si Buta Dari Goa Hantu, dimana para pesilat dan pendekar hadir dalam satu tempat, duduk di meja panjang yang menghidangkan hidangan jajanan desa. Beberapa pendekar meletakan senjatanya diatas meja-meja tersebut. Senjata di atas meja :D Suasana tersebut terasa dalam Acara Mencak Sumping  yang merupakan acara puncak dari Syukuran Dusun Mondoluko, Desa Taman Suruh, Kecamatan Glagah, Banyuwangi.  Mencak Sumping merupakan salah satu Kesenian Pencak Silat (Mencak) asli Indonesia yang sudah melekat erat dalam kehidupan Suku Osing terutama di dusun Mondoluko. Saya rasa nama dusun Mondoluko  kesannya cukup Kolosal, ternyata mempunyai arti unik. Berasal dari dua suku kata yaitu Edo dan Luko. Edo yang artinya Ratu dan Luko artinya Tatu atau Luka, jika digabungkan Ratu yang terluka. Saya kurang paham siapa yang dimaksud dengan ratu, namun munculnya mencak...

Warna-Warni Kalilo, Banyuwangi dan Kisah Penantian Istri Pejuang

Gambar
Merubah pemukiman kumuh di pinggiran kali menjadi lebih berseri, lebih hidup dan akhirnya bisa menjadi destinasi wisata sudah meraja rela di Indonesia. Setahu saya gerakan ini di mulai dari perkampungan Kali Code, Yogyakarta lalu melejit pada pada kampung Jodipan di Malang dan mulai lah daerah lain mengikuti termasuk Banyuwangi dengan Kampung Warna-Warni Kalilo. Kampung warna-warni Kalilo berada di pusat kota Banyuwangi di dekat Masjid Agung Baiturrahman atau lebih tepatnya secara administrasi terletak di Kelurahan Singonegaran, Kecamatan Banyuwangi, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.  Pemukiman bantaran sungai yang dulu terlihat kumuh ketika saya lalu lalang disana, kini terlihat berseri danpenuh warna, bahkan dibangun landmark bertuliskan Kalilo Banyuwangi. Rute menuju ke Kampung warna-warni Kalilo cukup mudah, kita tinggal menuju arah Taman Sri Tanjung atau Mesjid Baiturahman. Pada perempatan lampu lalu lintas masjid Baiturahman ambil arah kiri atau ke arah barat nanti kampung wa...

Terpesona Festival Gandrung Sewu, Banyuwangi

Gambar
Tari Gandrung sudah menjadi sebuah ikon dari Kabupaten Banyuwangi, beberapa patung penari gandrung dibuat di beberapa tempat seperti di perbatasan Situbondo-Banyuwangi yang ada di Waduk Sidodadi, Pantai Watudodol dan Perbatasan Banyuwangi-Jember di Gunung Gumitir. Beberapa event dan program diadakan untuk makin menunjukan eksistensinya Tari Gandrung salah satunya adalah Festival Gandrung Sewu. Setelah tahun lalu tidak sempat melihat perhelatan akbar Festival Gandrung Sewu karena tugas Negara,tahun ini akhirnya sempat melihatnya bersama teman-teman dari Jateng dan Bonsowoso. Festival ini diadakan cukup unik pada siang hari di pantai Boom, salah satu pantai terkenal di Banyuwangi. Untuk menuju pantai Boom dari kota Banyuwangi cukup mudah arahkan kendaraan ke Alun-alun Blambangan � Lurus ke arah pertigaan Pom Bensin PLN ambil Kanan, ikuti saja jalan tersebut dan akan sampai di Pantai Boom. berpose di baliho festival gandrung sewu Festival ini mulai diadakan tahun 2012 dan setiap tahunnya ...

Secuil Kenangan Tak Terlupakan di Pasar Wage Kenteng, Kulonprogo

Gambar
Ibu-ibu kece penjual Geblek :D Jogja menyimpan banyak memori memori menarik saat saya merantau ke sana untuk mencari ilmu. Salah satu memori menarik yang tidak terlupakan adalah Pasar Tradisionalnya. Pasar tradisional dimana-mana ada, bahkan untuk kota sekelas Jakarta pun masih ada pasar tradisional yang masih bertahan. Pasar Tradisional di Jogja yang menyimpan memori dan selalu saya sempatkan berkunjung namanya Pasar Kenteng, Sebuah pasar yang letaknya di persawahan daerah pegunungan Menoreh Kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta. Pasar ini letak di Desa Kembang, Kecamatan Nanggulan, Kulonprogo. Letaknya dari kota Jogja tidak terlalu jauh hanya berjarak tempuh sekitar 30 menit dari Tugu Jogja. Pasar Kenteng tidak seperti pasar Beringharjo, Malioboro yang buka setiap hari, hanya buka di hari tertentu yaitu Hari Wage pada penanggalan atau Kalender Jawa. Dan pada hari biasa selain hari Wage tidak ada salah satu penjual pun yang berjualan di pasar itu. Pasar ini buka dari setelah subuh hingga b...

Saparan Bekakak, Ambarketawang - Tradisi Budaya Unik Jogja Di Bulan Sapar

Gambar
Salah satu Ogoh-Ogoh Unik Yogyakarta memang punya kebudayaan yang unik, apalagi budaya unik dari Desa Ambarketawang, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, Yogyakarta saat bulan Sapar (pada tanggalan Jawa) terdapat tradisi Budaya Saparan Bekakak dimana akan terdapat banyak Ogoh-ogoh dalam berbagai bentuk dari yang berbentuk hewan sampai berbentuk Hantu Kalong Wewe ada juga Hantu Gondoruwo :D Sepasang Bekakak (Pengantin) dari Beras Ketan Cerita terjadinya tradisi Saparan Bekakak ini berawal keinginan Abdi Dalem kesayangan dari Sri Sultan HB I yaitu bernama Kyai Wirasuta dan Nyi Wirasuta yang merupakan pasangan Suami-Istri hendak membangun sebuah Kraton di tempat Kerajaan dan Kediaman Sultan. Selama masa pembangunan kraton, Sultan tinggal sementara di sebuah Pesanggrahan daerah Ambarketawang, Gamping.  Setelah pembangunan selesai dan Sri Sultan hendak pindah ke Kraton namun kedua abdi dalem Kyai Wirasuta dan Nyi Wirasuta memilih menetap di bekas Pesanggrahan Sultan tersebut. Namun pada...